Rabu, 22 Agustus 2012

laporan bab 1 antropometri


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Aspek ergonomidalamsuatu proses rancang bangun fasilitas kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa produksi. Terutama dalam hal perancangan ruang dan fasilitas akomodasi.Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas dalam dekade ini merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda. Hal tersebut tidak terlepas dari pembahasan mengenai ukuran anthropometri tubuh operator maupun penerapan data-data anthropometrinya.Kata anthropometri berasal dari bahasaYunani, yaitu anthropos yang berarti manusia (man, human) dan metrein (to measure) yang berarti ukuran. Jadi, Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimens itubuh manusia.
Anthropometri akan memberikan penjelasan kalau manusa itu pada dasarnya memiliki berbeda satu dengan yang lain. Manusia akan bervariasi dalam berbagai macam dimensi ukuran seperti kebutuhan, motivasi, inteligensia, imaginasi, usia, latarbelakang pendidikan, jenis kelamin, kekuatan, bentuk dan ukuran tubuh, dansebagainya. Dengan memiliki data antropometri yang tepat, maka seorang perancang produk ataupun fasilitas kerja akan mampu menyesuaikan bentuk dan geometris ukuran dari produk rancangannya dengan bentuk maupun ukuran segmen-segmen bagian tubuh yang nantinya akan mengoperasikan produk tersebut. Jadi bisa dikatakan antropometri memegang peranan utama dalam rancang bangun sarana dan prasarana kerja.
Praktikum modul 1 ergonomi Teknik Industri Universitas Trunojoyo ini, membahas tentang sekumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia bentuk, ukuran, dan kekuatan serta penggunaan dari data tersebut untuk memecahkan suatu masalah dalam pendesain produk. Praktikum ini secara garis besar mengukur 4 bagian dimensi tubuh, yaitu sebanyak 26 dimensi untuk antropometri tubuh, 19 dimensi untuk telapak  tangan, 8 dimensi untuk telapak kaki, dan 14 dimensi untuk kepala.
Setelah diadakannya praktikum modul 1 ini, diharapkan praktikan dapat mengetahui tata cara pengukuran dimensi tubuh manusia untuk kepentingan ergonomi  dan dapat mengetahui penggunaan data anthropometri dalam perancangan produk atau stasiun kerja.
1.2  TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum ergonomi pada modul I adalah sebagai berikut :
o   Mengetahui cara pengukuran dimensi tubuh, dimensi telapak tangan, dimensi kaki, dan dimensi kepala.
o   Mengetahui  tabel anthropometri
o   Mengetahui  segmen tubuh yang digunakan untuk perancangan produk dan optimasi  metodologi kerja.
o   Mengetahui penggunaan data anthropometri dalam perancangan produk dan stasiun kerja.
o   Mengetahui manfaat perancangan yang ergonomi  untuk menghindari kecelakaan dan rasa sakit pada saat kerja.






BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  ANTHROPOMETRI
Istilah Antropometri berasal dari kata “Anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran bentuk, ukuran (tinggi, lebar) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan lainnya (Sutalaksana,1996). Menurut Nurmianto (1991), antropometri adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain. Antropometri secara lebih luas digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam proses perencanaan produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara lebih luas antara lain dalam hal perancangan areal kerja (work station), perancangan alat kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools), perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, dan perancangan lingkungan fisik. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang akan dirancang sesuai dengan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut (Nurmianto,2003).
Anthropometri pada dasarnya akan menyangkut bentuk, ukuran fisik atau fungsi dari tubuh manusia termasuk disini ukuran linier, berat, volume, ruang gerak dan lain-lain. Penerapan data anthropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan SD (standar deviasi) nya dari suatu distribusi normal. Data anthropometri ini akan sangat bermanfaat didalam perencanaan peralatan kerja atau fasilitas-fasilitas kerja. Anthropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomi dalam memerlukan interaksi manusia.
Data anthropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan antara lain sebagai berikut :
o   Perancangan produk-produk konsumtif seperti meja, kursi, pakain dll.
o   Perancangan peralatan kerja seperti perkakas, mesin
o   Perancangan area kerja
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut.

2.2  PERSENTIL
Persentil adalah suatu nilai yang menyatakan bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Misalnya : 95% populasi adalah sama dengan atau lebih rendah dari 95 persentil. 5% dari populasi berada sama dengan atau lebih rendah dari 5 persentil.
X
Besarnya nilai persentil dapat ditentukan dari tabel probabilitas distribusi normal sebagai berikut :







            Gambar 1.2.1
           Gambar Persentil

Dalam bahasan anthropometri, 95 persentil menunjukkan tubuh berukuran besar, sedangkan 5 persentil menunjukkan tubuh berukuran kecil. Jika diinginkan dimensi untuk mengakomodasi 95% populasi maka 2.5 dan 97.5 persentil adalah batas ruang yang dapat dipakai.
Pemakaian nilai-nilai persentil yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data anthropometri dapat dijelaskan seperti berikut ini

Tabel 1.2.1 :
Perhitungan Persentil
Persentil
Perhitungan
1-st
2.5-th
5-th
10-th
50-th
90-th
95-th
97.5-th
99-th
-2.325 σx
-1.96 σx
-1.645 σx
-1.28 σx
+1.28 σx
+1.645 σx
+1.96 σx
+2.325 σx


2.3  APLIKASI DATA ANTHROPOMETRI DALAM PERANCANGAN PRODUK ATAU FASILITAS KERJA.
Data anthropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia dalam percentilr tertentu akan sangat besar manfaatnya pada saat suatu rancangan produk ataupun fasilitas kerja akan dibuat. Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip-prinsip apa yang harus diambil didalam aplikasi data anthropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu seperti diuraikan sebagai berikut :
a.    Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim. Disini rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi dua sasaran produk, yaitu :
1.    Bisa sesuai ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan rata-ratanya.
2.    Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada).
Agar biasa memenuhi sasaran pokok tersebut maka ukuran yang yang diaplikasikan ditetapkan dengan cara :
-       Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai percentile terbesar seperti 90-th, 95-th atau 99-th percentile.
-       Untuk dimensi maksimum yang harus ditetapkan diambil berdasarkan nilai percentile yang paling rendah (1-th, 5-th, 10-th percentile) dari distribusi data anthropometri yang ada.
b.    Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan diantara rentang ukuran tertentu. Disini rancangan bisa diubah-ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh. Contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil yang mana dalam hal ini letaknya bisa digeser maju atau mundur dan sudut sandarannya bisa berubah-ubah sesuai dengan yang diinginkan. Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel semacam ini, maka data anthropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang 5-th sampai dengan 95-th percentile.
c.    Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata-rata.
Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia. Berkaitan dengan aplikasi data anthropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa saran atau rekomendasi yang bias diberikan sesuai dengan langkah-langkah :
-       Pertama kali menetapkan anggota tubuh yang mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
-       Menentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut.
-       Menentukan populasi terbesar yang harus diantipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut.
-       Menetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti .
-       Memilih prosentase populasi yang harus diikuti atau nilai percentile yang lain yang dikehendaki.
-       Untuk dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya pilih atau tetapkan nilai ukurannya dari tabel data anthropometri yang sesuai.
Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data anthropometri untuk bias diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka gambar dibawah ini akan memberikan informasi tentang berbagai macam anggota tubuh yang perlu diukur :











Gambar 1.2.2. :
 Anthropometri Tubuh Manusia
Keterangan dari gambar diatas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1.2.2 :
Dimensi Tubuh
DIMENSI TUBUH
1 = Tinggi tubuh posisi berdiri tegak
14 = Tinggi lipat lutut
2 = Tinggi mata
15 = Lebar bahu
3 = Tinggi bahu
16 = Lebar panggul
4 = Tinggi siku
17 = Tebal dada
5 = Tinggi genggaman tangan pada  posisi relaks ke bawah
18 = Tebal perut
6 = Tinggi badan pada posisi duduk
19 = Jarak dari siku ke ujung jari
7 = Tinggi mata pada posisi duduk
20 = Lebar kepala
8 = Tinggi bahu pada posisi duduk
21 = Panjang tangan
9 = Tinggi siku pada posisi duduk
22 = Lebar tangan
10 = Tebal paha
23 = Jarak bentang dari ujung jari tangan kanan ke kiri
11 = Jarak dari pantat ke lutut
24 = Tinggi pegangan tangan pada posisi tangan vertikal ke atas dan berdiri tegak
12 = Jarak dari lipat lutut ke pantat
25 = Tinggi pegangan tangan papa posisi tangan vertikal ke atas dan duduk
13 = Tinggi lutut
26 = Jarak genggaman tangan ke punggung pada posisi tangan ke depan







Gambar 1.2.3 :
Anthropometri tangan

              Keterangan dari gambar diatas dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1.2.3 :
Dimensi Anthropometri Tangan

DIMENSI TANGAN
1 = Panjang tangan
11 = Tebal jari telunjuk
2 = Panjang telapak tangan
12 = Lebar telapak tangan
3 = Panjang ibu jari
13 = Lebar telapak tangan (sampai ibu jari)
4 = Panjang jari telunjuk
14 = Lebar telapak tangan (minimum)
5 = Panjang jari tengah
15 = Tebal telapak tangan
6 = Panjang jari manis
16 = Tebal telapak tangan (sampai ibu jari)
7 = Panjang jari kelingking
17 = Diameter genggam (maksimum)
8 = Lebar ibu jari
18 = Lebar maksimum (ibu jari ke jari kelingking)
9 = Tebal ibu jari
19 = Lebar fungsional maksimum (ibu jari ke jari lain)
10 = Lebar jari telunjuk
20 = Segi empat minimum yang dapat dilewati telapak tangan

2.4  PENYEBAB VARIABILITAS
Perbedaan antara satu populasi dengan populasi yang lain adalah dikarenakan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
2.4.1     Keacakan/Random
Walaupun telah terdapat dalam satu kelompok populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku atau bangsa, kelompok usia dan pekerjaannya, namun masih ada perbedaan yang signifikan antara berbagai macam masyarakat.distribusi frekuensi secara statistic dari dimensi kelompok anggota masyarakat jelas dapat diapromasikan dengan menggunakan Distribusi Normal, yaitu dengan menggunakan data persentil yang telah diduga, jika mean (rata-rata) dan SD (standar deviasi)  telah dapat diestimasi.
2.4.2     Jenis Kelamin
Secara distribusi statistic ada perbedaan yang signifikan antara dimensi tubuh pria dan wanita. Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan dengan wanita. Oleh karenanya data anthropometri untuk kedua jenis kelamin tersebut selalu disajikan secara terpisah.
2.4.3    Suku Bangsa (Ethnic Variability)
Setiap suku bangsa ataupun kelompok etnik akan memiliki karakteristik fisik yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Suatu contoh sederhana bahwa dengan meningkatnya jumlah penduduk yang migrasi dari Negara Vietnam ke Australia, untuk mengisi jumlah satuan angkatan kerja maka akan mempengaruhi anthropometri secara Nasional.
2.4.4    Usia
Pengelompokan usia digolongkan seperti dibawah ini :
·         Balita,
·         Anak-anak,
·         Remaja,
·         Dewasa, dan
·         Lanjut usia.
Hal ini sangat berpengaruh terutama jika desain diaplikasikan untuk anthropometri anak-anak. Anthropometrinya akan cenderung terus meningkat sampai batas usia dewasa. Namun setelah menginjak usia dewasa, tinggi badan manusia mempunyai kecenderungan untuk menurun yang antar lain disebabkan oleh berkurangnya elastisitas tulang belakang, berkurangnya dinamika gerakan tangan dan kaki.
2.4.5      Jenis Pekerjaan
Beberapa jenis pekerja tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan atau stafnya.seperti misalnya: pekerja yang bekerja di dermaga / pelabuhan adalah harus mempunyai postur tubuh yang relative lebih besar dibandingkan dengan karyawan perkantoran pada umumnya.
2.4.6      Pakaian
 Hal ini merupakan sumber variabilitas yang disebabkan oleh bervariasinya iklim atau musim yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lainnya terutama untuk daerah dengan empat musim. Misalnya, pada waktu musim dingin manusia akan memakai pakaian yang relative lebih tebal dan ukuran yang relatif lebih besar.
2.4.7      Faktor Kehamilan Pada Wanita
Faktor ini sudah jelas akan mempunyai pengaruh perbedaan yang berarti kalau dibandingkan degan wanita yang tidak hamil. Terutama yang berkaitan dengan analisis perancagan produk (APP) dan analisis perancangan kerja (APK).
2.4.8      Cacat Tubuh Secara Fisik
Dimana data anthropometri disini akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang-orang cacat (kursi roda, kaki atau tangan palsu, dan lain-lain).

2.5  DIMENSI STATIS DAN DINAMIS
2.5.1.    Pengukuran dimensi struktur tubuh atau dimensi statis
Disini tubuh diukur dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Istilah lain dari pengukuran tubuh dengan cara ini dikenal dengan “static anthropometry”. Dimensi tubuh yang diukur tetap antara lain meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut pada saat berdiri atau duduk, panjang lengan, dan sebagainya.

2.5.2     Pengukuran dimensi fungsional tubuh atau dimensi dinamis
Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat berfungsi melakukan gerakan-gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Hal pokok yang ditekankan dalam pengukuran dimensi fungsional tubuh ini adalah medapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.

2.6  VARIAN DAN KOVARIAN
2.6.1     Varian
Varian adalah membandingkan dua atau lebih distribusi yang sama satuan pengukurannya dengan menggunakan pengamatan distribus tunggal.
Varian dilambangkan dengan simbol (σ2). Varian dibedakan menjadi varian populasi dan varian,
Rumus dari variansi :

                                                                            ………….( I )

                                                                           ………….( II )
                
2.6.2    Kovarian
Koefisien variansi (kovarian) adalah perbandingan antara standar deviasi dengan rata-rata/mean dan dikalikan 100%.
Kovarian (koefisien varian), v , didefinisikan sebagai berikut :
Rumus dari kovarian adalah :
……………… ( III )

2.7  KORELASI
2.7.1  Korelasi
Analisis kolerasi di gunakan untuk mengukur hubungan antara 2 peubah X dan Y dengan menggunakan suatu bilangan yang disebut koefisien kolerasi.
                                                                      ................( IV )

2.8  METODE ERGONOMI
1)    Elektromyografi pengukuran terhadap penggunaan otot pada kaki dan punggung.
2)    Anthropometry pengukuran terhadap tubuh ini berbagai sudut dan perbandingan dengan posisi berdiri santai, juga mengukur pusat pemindahan beban pada posisi yang mudah dijangkau.
3)    Pemilihan subjektif berdasar keinginan subjek yang diteliti
4)    Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.
5)    Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.
6)    Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan, sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

2.9.  APLIKASI / PENERAPAN ERGONOMI
1.      Posisi Kerja
        terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang  belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
2.      Proses Kerja
        Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
3.      Tata letak tempat kerja
        Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.
4.      Mengangkat beban
        Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung dan sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
o     Menjinjing beban
Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sbb:
- Laki-laki dewasa 40 kg
- Wanita dewasa 15-20 kg
- Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg
- Wanita (16-18 th) 12-15 kg








o     Organisasi kerja
Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara :
-       Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun
-       Frekuensi pergerakan diminimalisasi
-       Jarak mengangkat beban dikurangi
-       Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat tidak terlalu tinggi.
-       Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.
o     Metode mengangkat beban
Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetic dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip :
-     Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
- Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum    berat   badan.
Metoda ini termasuk 5 faktor dasar :
o   Posisi kaki yang benar
o   Punggung kuat dan kekar
o   Posisi lengan dekat dengan tubuh
o   Mengangkat dengan benar
o   Menggunakan berat badan
o   Supervisi medis
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur.
-       Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya
-       Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan
-       Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda dan yang sudah berumur.

Tabel 1.2.4 :
Anthropometri masyarakat Indonesia  yang didapat dari Interpolasi masyarakat British dan Hongkong (Pheasant 1986) terhadap
masyarakat Indonesia (Suma’mur 1989) serta istilah dimensinya
dari ( Nurmianto, 1991 a : Nurmianto, 1991 b: )

NO
DIMENSI TUBUH
PRIA
WANITA
5%
X
95%
SD
5%
X
95%
SD
1
Tinggi tubuh posisi berdiri tegak
1532
1632
1732
61
1404
1563
1662
60
2
Tinggi mata
1425
1520
615
58
1350
1446
1542
58
3
Tinggi bahu
1247
1338
1429
55
184
1272
1361
54
4
Tinggi siku
932
1003
1074
48
886
957
1028
48
5
Tinggi gengggaman tangan ( knukle ) pada posisi rileks ke bawah
665
718
782
39
646
708
771
38
6
Tinggi badan pada posisi duduk
809
804
919
33
775
884
893
36
7
Tingi mata pada posisi  duduk
694
749
804
33
666
721
776
33
8
Tinggi bahu pada posisi duduk
523
572
621
30
501
550
599
30
9
Tinggi siku pada posisi duduk
181
231
282
31
175
229
283
33
10
Tebal paha
117
140
163
14
115
140
165
15
11
Jarak dari pantat kelutut
500
545
590
27
488
537
586
30
12
Jarak dari lipat lutut ( popliteal ) ke Pantat
405
450
495
27
488
537
586
30
13
Tinggi lutut
448
496
544
29
428
472
516
27
14
Tinggi Lipat Lutut (popliteal)
361
403
445
26
337
382
428
28
15
Lebar Bahu
382
424
466
26
342
385
428
26
16
Lebar Panggul
291
331
371
24
298
345
392
29
17
Tebal Dada
174
212
250
28
178
228
278
30
18
Tebal Perut ( abdominal )
174
228
282
33
175
231
287
34
19
Jarak dari Siku ke ujung jari
405
439
478
21
374
409
287
34
20
Lebar kepala
140
150
160
6
135
146
157
7
21
Panjang tangan
161
176
191
9
153
168
183
9
22
Lebar tangan
71
79
87
5
64
71
78
4
23
Jarak bentang dari ujung jari tangan kanan ke kiri 
1520
1663
1806
87
1400
1523
1646
75
24
Tinggi pegangan tangan ( grip )  pada posisi tangan vertikal  ke atas dan berdiri tegak
1795
1932
2051
78
1713
1841
1969
79
25
Tinggi pegangan tangan  ( grip ) pada posisi tangan vertikal keatas dan duduk
649
708
767
37
610
661
712
31
26
Jarak genggaman tangan ( grip ) ke punggung pada posisi tangan ke depan
1065
1169
1273
63
945
1030
1115
52

Sumber : (Pheasant 1986) (Suma’mur 1989)
 ( Nurmianto, 1991 a : Nurmianto, 1991 b: )











Tabel 1.2.5 :
 Anthropometri telapak tangan masyarakat Indonesia

yang didapat dari Interpolasi  Data  Pheasant ( 1986 ),  Suma’mur ( 1989 )

dan Nurmianto ( 1991 ) ( semua dimensi dalam satuan mm )


NO
DIMENSI
PRIA
WANITA
5%
X
95%
SD
5%
X
95%
SD
1
Panjang Tangan
163
176
189
8
155
168
181
8
2
Panjang Telapak Tangan
92
100
108
5
87
94
101
4
3
Panjang Ibu Jari
45
48
51
2
42
45
48
2
4
Panjang Jari Telunjuk
62
67
72
3
60
65
70
3
5
Panjang Jari Tengah
70
77
84
4
69
74
79
3
6
Panjang Jari Manis
62
67
72
3
59
64
69
3
7
Panjang Jari Kelingking
48
51
54
2
45
48
51
2
8
Lebar Ibu Jari (IPJ)
19
21
72
1
16
18
20
1
9
Tebal Ibu Jari (IPJ)
19
21
54
1
13
17
19
1
10
Lebar Jari Telunjuk (PIPJ)
18
20
23
1
15
17
19
1
11
Tebal Jari Telunjuk (PIPJ)
16
18
20
1
13
15
17
1
12
Lebar Telapak Tangan
74
81
88
4
68
73
78
3

(Metacarpal)
13
Lebar Telapak tangan
88
98
108
6
82
89
96
3

(Sampai Ibu Jari)
14
Tebal Telapak Tangan
68
75
82
4
64
59
74
4

(Minimum)
15
Tebal Telapak Tangan
28
31
34
2
25
27
29
3

(Metacarpal)
16
Tebal Telapak Tangan
41
48
47
2
41
44
47
1

(Sampai Ibu Jari)
17
Diameter Genggaman
45
48
51
2
43
46
49
2

(maksimum)
18
Lebar Maksimum (Ibu Jari
177
192
206
9
169
184
199
9

Ke Jari Kelingking)
19
Lebar Fungsional Maksimum
122
132
142
6
113
123
134
6

(Ibu Jari ke Jari lain)
20
Segi Empat Minimum yang dapat dilewati Telapak Tangan
57
62
67
3
51
56
61
3

Sumber : Interpolasi  Data  Pheasant ( 1986 ),  Suma’mur ( 1989 )

dan Nurmianto ( 1991 ) ( semua dimensi dalam satuan mm )

Catatan :
IPJ   = Interphalangeal Joint (Sambungan anrtar ruas tulang jari)
IPJ   = Interphalangeal Joint (Sambungan anrtar ruas tulang jari)

Tabel 1.2.6 :
Anthropometri telapak kaki masyarakat Indonesia
yang didapat dari Interpolasi  Data  dempster ( 1955 ),  Reynold (1978 )
dan Nurmianto ( 1991 ) ( semua dimensi dalam satuan mm )
NO
DIMENSI TUBUH
PRIA
WANITA
5%
X
95%
SD
5%
X
95%
SD
1
Panjang kaki
230
248
266
11
212
230
248
11
2
Panjang Telapak lengan kaki
165
178
191
8
158
171
184
8
3
Panjang kaki sampai jari kelingking
186
201
216
9
178
191
204
8
4
Lebar kaki
82
89
96
4
81
88
95
4
5
Lebar Tangkai kaki
61
66
71
3
49
54
59
3
6
Tinggi mata kaki
61
66
71
3
59
64
69
3
7
Tinggi bagian tengah kaki
68
75
82
4
64
69
74
3
8
Jarak horizontal tangkai mata kaki
49
52
55
2
46
49
52
2

Sumber : Interpolasi  Data  dempster ( 1955 ),  Reynold (1978 )
dan Nurmianto ( 1991 ) ( semua dimensi dalam satuan mm )























BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Alat dan bahan
Adapun peralatan praktikum yang digunakan adalah :
1.          Anthropometer untuk mengukur dimensi tubuh
2.          Mistar penggaris minimal 2 buah
3.          Meteran
4.          Observation sheet

3.2  Prosedur Praktikum
Prosedur praktikum yang dilakukan dalam modul satu mengenai anthropometri adalah sebagai berikut :
1.  Pengukuran dilakukan oleh seluruh praktikan.
2.  Setiap pengukuran dilakukan, praktikan dibagi menjadi 2 bagian :
a.    Bagian pertama (anthropometri tubuh)
-          Persiapkan alat pengukur, yaitu anthropometer, meteran, dan mistar.
-          Ukur dimensi tubuh tiap praktikan, dimana dimensi tubuh yang diukur sebanyak 26 buah (lihat table anthropometri, Nurmianto, p-59-61).
b.    Bagian kedua (anthropometri tangan)
-          Persiapkan alat pengukur, yaitu mistar.
-          Ukur dimensi tangan tiap praktikan, dimana dimensi tangan yang diukur sebanyak 20 dimensi telapak tangan (lihat table anthropometri tangan, Nurmianto, p-63).
b.      Bagian ketiga (anthropometri telapak kaki)
-          Persiapkan alat pengukur, yaitu anthropometer, meteran, dan mistar
-          Ukur dimensi kaki tiap praktikan, dimana dimensi kaki yang diukur sebanyak 8 dimensi telapak kaki (lihat table anthropometri tangan, Nurmianto, p-69).
3.  Pengerjaan laporan bersifat kelompok

3.3  FLOWCHART PROSEDUR PRAKTIKUM
Langkah-langkah pelaksanaan praktikum dan langkah-langkah pengolahan data dalam bentuk flowchart adalah sebagai berikut :
Mulai
Mempersiapkan alat ukur
Membuat Observation sheet untuk dimesi tubuh, dimensi  tangan, dimensi kaki, dan dimensi kepala
Pertama mengukur dimensi tubuh sebanyak 26 dimensi, masukkan hasil dalam observation sheet
Ketiga Mengukur dimensi  kaki sebanyak 8 dimensi, masukkan hasil dalam observastion sheet
Kedua mengukur dimensi  telapak tangan sebanyak 19 dimensi, masukkan hasil dalam observation sheet
X
 


















Keempat mengukur dimensi kepala sebanyak 14 dimensi, masukkan hasil dalam observation sheet
X
Rekap data sesuai dengan jenis kelamin
Jumlah , SD tiap observation sheet sesuai dengan anthopometri dan jenis kelamin
Membuat rumusan kolerasi hasil pengukur dengan sample pengukuran secara manual
Membuat rumusan regresi hasil pengukuran dengan sample pengukuran dari table kolerasi ( 0,5) secara SPSS
Membuat table anthropometri (percentile)dari hasil pengukuran
Membut analisa dan interprestasi
Membuat kesimpulan dari hasil pelaksanaan praktikum
Selesai
 

1 komentar:

  1. sory numpang nanya kalo hubungan anthropometri lingkungan fisik apa ya tolong dibantu ya

    BalasHapus